Photo Ilustrasi
Faktaterkini.co.id, Deli Serdang - Dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMA Negeri 1 Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang harus diperiksa secara Independent
Hal itu diketahui dengan adanya kejanggalan penggunaan anggaran Penerimaan Peserta Didik Baru di SMAN 1 Lubuk Pakam Tahun 2024 terhitung dalam satu tahun dianggarkan 2 sehingga hal ini menjadi pertanyaan besar.
Berdasarkan data yang diperoleh, pada tahap I, pengeluaran untuk Penerimaan Peserta Didik Baru sebesar Rp 7.800.000, dan di tahap II, sebesar Rp 6.950.000. Jadi total anggaran dalam yang dikeluarkan dalam satu tahunnya itu mencapai 14.030.000.
Belum lagi temuan-temuan lainnya, seperti anggaran untuk Pemeliharaan Sarana dan Prasarana dalam setahun itu mencapai Rp 595.155.900. dengan rincian untuk tahap I, digelontorkan sebesar Rp 236.949.900, dan pada tahap II Rp 358.206.000, total anggaran yang dikeluarkan dalam satu tahun itu mencapai Rp 598.155.900, sungguh signifikan juga.
Sedangkan anggaran untuk Pengembangan Perpustakaan dan Layanan Pojok Baca pada tahap I Rp 291.831.000 dan pada tahap II Rp 104.012.000, total dalam satu tahunnya mencapai Rp 395.843.000.
Untuk memastikan kebenarannya, Tim Faktaterkini mencoba untuk konfirmasi Kepala Sekolah SMAN 1 Lubuk Pakam inisial FM melalui pesan WhatsApp, Selasa (10/32026), namun sangat disayangkan Kepala Sekolah bungkam diduga blokir nomor wartawan.
Hal itu terlihat ketika pesan yang dikirim masih centang satu dan tidak bisa dihubungi.
Terkesan seorang pimpinan dunia pendidikan yang anti kritikan, memblokir WA wartawan diduga tidak ingin dikonfirmasi terkait pemberitaan anggaran dana BOS yang dikelolanya. Hal ini menimbulkan asumsi bahwa diduga adanya praktik korupsi dana BOS di SMAN 1 Lubuk Pakam .
Kini Publik berharap Kejati Sumut memanggil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lubuk Pakam berinisial FM untuk diperiksa
Apabila ada ditemukan kerugian negara agar ditindak tegas sesuai hukum berlaku.
Dinas Pendidikan Sumatera Utara harus memberikan teguran keras terhadap Kepala Sekolah SMAN 1 Lubuk Pakam, diduga anti kritikan dan alergi terhadap wartawan. (Redaksi)
